Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Januari 2019

Kakak adek bertengkar biasa, tapi kalo biasa bertengkar nggak bagus

Hai my blog readers 🙋
Apa kabar? Lagi pada sibuk ngapain nih?
Lagi musim hujan nih, jangan lupa sedia payung atau jas hujan. Supaya nggak sakit. Hehehe 😊

Aku pingin tahu, apakah diantara pembaca Blog Amel ada yang punya saudara? Mungkin sebagian besar dari my dear readers menjawab ada. Ada saudara laki-laki, ada saudara perempuan, ada kakak, ada adik, ada saudara kandung dan bahkan saudara angkat.

Lalu, pernahkah kalian sekamar dengan saudara kalian? Pasti sebagian besar menjawab pernah sekamar dengan saudaranya terutama waktu masih kecil.

Yah sama dengan aku. Amel juga punya saudara. Seorang kakak perempuan dan kita pernah sekamar bareng.

Tapi pertanyaan utamanya, The main question nih :)
"Berapa lama kalian sekamar dengan saudara kalian? Hayo?" Hehehe maaf pertanyaannya aneh. Bukan pertanyaan porno ya! Nanti ada penjelasannya. Makanya baca terus! Biar nggak salah paham 😊

Nah, pertanyaan ini jawabannya unik. Masing-masing pasti punya jawaban yang bervariasi. Ada yang lama sampe bertahun-tahun, ada juga yang cuma sebentar. Yah mungkin karena saudaranya ngekos, pindah rumah, udah kerja dan merantau atau bahkan udah menikah. Tapi intinya 'punya kamar yang berbeda' adalah alasan utama mengapa nggak sekamar lagi sama saudara.

Untuk aku sendiri, dari aku kecil sampai sekarang aku sekamar terus sama kakakku.
Usiaku 24 tahun, dan cuma selama dua tahun aja aku nggak sekamar sama kakakku. Tahun yang pertama karena kakakku kuliah, tahun yang lain karena akunya yang kuliah eh! Maksudku ikut pelatihan :p

So, totalnya udah 22 tahun aku sekamar dan serumah bareng kakakku, 23 tahun kalau tahun ini masih sekamar bareng. Dan selama 23 tahun itu pula aku lihat muka yang sama setiap hari sampai bosan (hehehe 😁)

Wait? Lama juga ya 23 tahun bareng terus. Ibarat sahabat kalau udah 23 tahun berinteraksi pasti udah deket banget kayak keluarga! 😄

Nggak tau kenapa tidak demikian denganku? 😅

Udah 23 tahun bareng tapi masih aja suka bertengkar.
Wajarlah, kakak-adik bertengkar biasa. Apalagi kalau masih anak-anak.
Tapi sekarang kami udah dewasa. 2019 ini aku 25 dan kakakku 28.

Kakak-adek mau berapapun usianya kalau kadang-kadang bertengkar, adu mulut, beda atau selisih pendapat, saling ngambek, diem-dieman. Tetap merupakan hal yang wajar.
Tapi yang namanya orang, kalau sudah dewasa nggak lucu kalau masih sering berantem. (Halah! Mo curhat berantem sama sodara aja intronya panjang banget! Pake nanya aneh-aneh lagi! Wkwkwk😂😂😂)

Hal ini terjadi padaku. Kami udah dewasa, tapi masih sering bertengkar.
Bukan adu jotos dan jambak-jambakan lho ya! 😁 itu dulu :p
Tapi kalau berantem yang sekarang diem-dieman, bersikap dingin dan cuek-menyuekin 🤕

Kadang kalau kami bertengkar aku berpikir, "udah 23 tahun kita bareng, suka duka kita lewati bersama, kadang seru-seruan bareng, waktu adek meninggal kita nangis bareng. Tapi kok masih sering bertengkar?
Ibarat sahabat kalo sudah selama itu ber-relationship sudah erat banget. Kalau suami istri sudah harmonis. Bahkan atasan dan karyawan kalau udah selama itu kerja bareng udah kenal dekat.
Lha ini kakak adek kok malah nggak akur?" Sering aku berpikir seperti ini waktu lagi nggak akur. Sering aku mempertanyakan hal ini pada diriku. Terutama mengingat kami sudah dewasa. Kelak kami akan berumah tangga.

Nggak lucu kan kalau udah berumah tangga masih sering bertengkar, nggak akur dan diem-dieman kayak orang lain :(

Sering aku berkaca pada persaudaraan yang lain, kayak ayahku misalnya. Dia punya dua kakak laki-laki dan tujuh adek yang kebanyakan laki-laki. Tapi mereka jarang ada yang bertengkar, akur-akur aja, padahal laki-laki semua.
Lalu ibuku, dia punya dua adek laki-laki dan hubungan mereka harmonis, tetap rutin berkomunikasi meski kini sudah terpisah-pisah dan berumah tangga.

Tapi setelah kutelaah dan kupikirkan lagi. Setidaknya mereka tidak lama hidup bersama saudara mereka. Tidak selama kami.
Di usiaku yang sekarang pun mereka udah berpisah dari saudaranya.
Ayah umur 17 tahun udah merantau. Mencari kehidupannya sendiri.
Emak dari anak-anak memang udah nggak sekamar sama adek-adeknya. Apalagi sebagai anak minang, yang namanya anak laki-laki tidur di surau, anak perempuan di rumah ngurus rumah. Sampai umur 22 masih serumah, tapi ditahun berikutnya emak menikah dan meninggalkan rumah.

Karena hal ini aku jadi berpikir. "Apa aku terlalu lama hidup bareng kakakku makanya kita sering bertengkar?
Kalo dipikir-pikir kita memang butuh ruang sendiri, butuh banget malah! Udah terlalu lama kami berbagi dan nggak punya privasi."(faktor situasi guys :| kondisinya belum memungkinkan buat punya kamar sendiri-sendiri :( )
Aku mengingat lagi tahun-tahun di mana aku nggak sekamar dengan kakakku. Tahun-tahun terbaik dalam hidupku :), terutama karena aku merasa mandiri :D

Hehehe jujur aja. Tanpa bermaksud buruk (egois). Sekamar terus sama saudara itu nggak baik dampaknya. Nggak punya privasi, harus selalu berbagi, Yang kerasa banget jadi kurang mandiri.
Terutama nggak bisa tidur sendirian :p

Aku inget awal-awal Uni ngekos waktu kuliah. Aku tidur sendirian di kamar. Ada anjing menggonggong dan suara malam lainnya yang membuat suasana mencekam sehingga aku jadi nggak bisa tidur dan umpetan (=sembunyi) di balik selimut.

Aku betul-betul resah dengan masalah 'biasa bertengkar' ini. Keresahanku ini diperkuat dengan pemikiran sikap kami ini nggak dewasa banget!
Bangetnya itu karena aku selalu minta bantuan emak untuk mendamaikan kita. Terutama di saat kakakku nggak mau mendengar kata-kataku.

How childish! Betapa memalukannya kami 🙈. Belum bisa menyelesaikan masalah kami sendiri, masih minta tolong ortu.
Untung aja ortu masih ada. Coba kalau nggak ada?! Alamat bakal diem-dieman kita, nggak saling bertegur sapa kayak orang asing. Dan baru akan berdamai saat salah satu dari kami mengalah dan membuang perasaan egois.

Punya saudara, sekarang cuma tinggal satu-satunya kok gini amat ya? Tapi jujur. Setiap aku membenci saudaraku aku selalu mengingat hal ini. Betapa menyedihkannya jadi anak tunggal, betapa menyedihkannya nggak punya saudara, dan yang terpenting betapa menyedihkannya nggak punya saudara sesama perempuan.

Sering aku berkaca pada sepupuku yang anak tunggal. Sejak lahir dia tunggal. Semua hal hanya miliknya sendiri, tidur sendiri di kamarnya sendiri, ada makanan untuknya sendiri, punya uang nikmatin sendiri, kuota berlebih pake sendiri, punya kosmetik dihabisin sendiri, ada masalah, kegalauan, keresahan di rasakan sendiri, nggak ada teman untuk berbagi. Betapa menyedihkannya. Hiks hiks perrrttt!!! (buang ingus)

Seperti halnya dengan ibuku yang selalu mendambakan punya saudara perempuan. Untuk curhat, berbagi keluh kesah, punya baju samaan ato pinjam-meminjam pakaian, belanja bareng, bergosip, cekikikan bareng, ngebela saudara saat ada yang menindas atau ada yang salah paham dengan saudaranya.

Hhh~

Harusnya aku bersyukur masih punya saudara.
Aku ingat betapa dekatnya dulu aku sama adikku. Betapa dekatnya dulu adikku sama kakakku.

Kenapa aku nggak bisa seperti adekku? Padahal saudara juga. Lahir dari rahim yang sama, ayah yang sama. Kita bertiga bersama, saudara kandung biologis.

Kenapa adekku bisa akrab sama kami yang kadang kurang akrab? Kenapa adekku bisa menjadi penyeimbang kami yang selalu bertengkar, keras kepala, egois dan tak mau mengalah?
Sayangnya adekku eh Adek kami udah nggak ada untuk menyeimbangkan kami. Sekarang harus kami sendirilah yang menyeimbangkan diri.

Dulu waktu adek kami masih 'idup, aku sama Uni nggak begitu dekat. Tapi setelah adek meninggal perlahan-lahan kami menjadi dekat meski masih sering bertengkar.
Nah bertengkarnya itu yang nggak banget!

Kalau kuingat-ingat ada 3 hal yang membuatku tetap akrab sama adekku sampai akhir hayat.
Adekku tuh anaknya lebih dewasa dari aku, penyabar sama sikapku yang konyol dan menyebalkan, selalu mengalah juga. Kalo dipikir-pikir aku dzolim ke adekku sendiri sampe dia terpaksa ngalah buat aku. :p
Kurasa aku harus meniru sikapnya.
Aku juga harus bersikap fleksibel jadi orang dewasa.

Eeh jadi orang dewasa nggak gampang! uwu

Aku harus menjaga hubungan ini karena saudara itu penting.
Ingat! Setelah aku berpisah dari adekku ada banyak rasa penyesalan hinggap. Padahal hubunganku sama adekku akrab. Yang dekat aja banyak banyak penyesalan apalagi yang nggak dekat. Jangan sampai deh!

Aku akan berusaha untuk menyayangi saudara kampretku (:

Kamis, 17 Januari 2019

Nggak bisa move on

Assalammu'alaikum semuanya. Apa kabar? Sehat? Mudah-mudahan kita semua sehat selalu, baik jasmani maupun rohani.

Ngomong-ngomong sehat, Amel mau tanya. Apakah sulit move on termasuk penyakit? Sakit dalam pikiran dan perasaan gitu?

Hehehe jangan salah ya. Move on yang Amel maksud sama sekali bukan move on dari mantan pacar. IT'S A BIG NO!
Bukan! Tapi nggak bisa move on dari masa lalu.

Aku tuh selalu terpaku ke masa lalu di mana ada banyak (banget!) penyesalan yang kulakukan.

Mulai dari masa SD, SMP, SMA dan pasca SMA.
Semua itu menghantuiku dan menggangguku.👻

Kadang rasanya aku antara pingin balik ke masa lalu dan nggak. :(

Aku berusaha mengenyahkan pikiran seperti ini. Tapi rasanya sulit.
Karena aku tahu kalau terus terpaku ke masa lalu nggak bakal maju-maju. Sungguh hal yang mubazir dan sia-sia.
I'm feeling very unhappy right now :'(

Ada banyak hal yang kuingat dan kulakukan jika aku teringat pada masa lalu, teringat pada penyesalan yang udah nggak bisa (mustahil) aku perbaiki:

1. Keep moving forward (terus melangkah maju)
2. Abaikan masa lalu, karena sia-sia aja memikirkannya terus.
3. Sibukkan diri biar nggak teringat masa lalu. Nah yang ini sering banget kulakukan.
4. Lakukan/kerjakan hal yang disukai (supaya masa lalu itu bisa enyah)
5. Dan yang terpenting selalu ingat bahwa waktu adalah komoditi penting yang terlalu berharga untuk di sia-siakan. Terlalu mubazir kalo buat mengingat masa lalu. Karena waktu lebih berharga dari emas dan permata.

Semoga kalian semua para pembaca blogku bisa belajar dari hal ini dan mengambil hikmahnya.

Mudah-mudahan nggak ada lagi orang yang 'sulit move on' kayak saya 😂.
Aamiin...

Kamis, 03 Januari 2019

Sekarang 2019, lalu apa?

Assalammu'alaikum semuanya.
Gimana nih kabarnya readers blogku?

Sekarang tahun telah berganti dan dunia terus berputar. Umur pun makin bertambah dan seiring pertambahan usia tentunya harus ada perubahan dong!

Gimana guys? Apa yang kalian lakukan sekarang? Apakah masih sekolah? Kuliah? Kerja? Atau malah sudah mencapai life goals dan sedang menargetkan target baru, the next life goals?

Amel ucapkan selamat untuk kalian yang memiliki kegiatan dan status yang jelas. Meski saat ini terasa berat, syukurilah karena itu tandanya kalian masih hidup, masih punya kehidupan, seperti halnya blog ini. Masih ada post baru.
Jangan sampai nganggur ya.

Tapi masih nganggur juga nggak pa pa kok, asalkan masih ada usaha untuk mencari kerja.

Jangan sampai nggak ada yang diusahain atau dilakuin, karena itu artinya kalian no life, stuck di zona nyaman. Terasa aman tapi nggak punya kehidupan.

Wait? 'Nggak punya kehidupan?' Hihihi udah kek orang mati aja ya?

Ngomong-ngmong life (hidup), pernah nggak memikirkan apa artinya hidup? Untuk apa aku hidup dan dilahirkan ke dunia ini? Apa tujuannya? Apa yang kucari? Apa yang betul-betul kuinginkan?

Buat yang punya jawabannya dan yakin akan hal itu. Hidup kalian mantap dan penuh keyakinan karena punya arah yang jelas.

And ... what's about me?

Well. Jujur aja. Aku belum ada arah yang jelas. Aku terjebak dalam kehidupanku yang nyaman.

Usai lulus SMA tahun 2012 dan menyelesaikan pelatihan dua tahun kemudian. Aku pindah dari Pekalongan ke Riau.

Aku meninggalkan semua yang aku kenal dan aku ketahui, tempat kelahiranku, tempat aku dibesarkan.

Di tempat baru yang belum kukenali ini.
Aku mencoba berbaur.

Tempat ini berbeda dengan Pekalongan, berbeda dengan Kajen. Belum ada perpustakaan (tempat yang kusukai), tapi good pointnya orang-orang sini nggak peduli dengan kekuranganku (sejauh ini).

Aku sempat kuliah selama kurang lebih tiga setengah tahun (udah masuk 8 semester), Dan berhenti tahun 2018 setelah aku sadar itu adalah ke sia-siaan (yang ini udah pernah kujelasin, lain kali kuceritain lebih jelas)

Aku nggak menyesal udah berhenti kuliah (Padahal dikit lagi wisuda bo!).
Tapi, setelah melepas status mahasiswa,  aku bingung, aku nggak punya status.

Selama ini aku selalu cari aman dengan bersembunyi di statusku. Meski saat ini aku punya usaha craft kecil-kecilan, penghasilannya belum cukup konsisten untuk disebut pekerjaan. Belum bisa menghidupi diri sendiri. Masih 'dihidupi' ortu. You know lah.

Jadi, selama tahun 2018 aku menganggur, aku nggak ada usaha untuk memperjuangkan hidupku. I'M NO LIFE! So scary.

Kalian nggak usah merasa kasihan pada kehidupan yang seperti ini. Jadikanlah sebagai motivasi kehidupan kalian. Agar jangan sampai seperti ini.

Trust me, be a no life is so worst. Life feel so empty and time flies away without leaving benefit even just a little. So useless!

So, syukuri kehidupan kalian yang masih berdetak. Hadapi 2019 dengan lebih banyak bersyukur.

Ini 2019 lalu apa? Keep moving forward guys!

Aku juga berusaha untuk maju.
Kuharap aku bisa menghadapi tahun ini lebih baik dari tahun kemarin. Supaya aku bisa memantaskan diriku sebagai khalifah di muka bumi ini. Dan ketemu jodoh 😁

Aamiin....

Ingat! Jodoh adalah cerminan diri sendiri. Kualitas jodoh sesuai dengan kualitas dirimu. Pokoknya #2019gantistatus! 😂

Sabtu, 03 Februari 2018

keputusanku di awal tahun

Assalammu’alaikum semuanya, apa kabar kalian semua pembaca blog ku? Mudah-mudahan dalam keadaan sehat wal’afiat ya? Aamiin…
Jadi, sekarang nggak kerasa ini udah tahun 2018 ya? Malah udah bulan kedua aja, bulan Februari, bulan kelahiranku di puncak musim hujan. Yahh.. seperti kondisi cuaca di Riau ini, masih sering hujan.
Di tempat kalian masih sering hujan juga? Atau malah lagi puncak-puncaknya? Mudah-mudahan nggak banjir ya! Dan jangan lupa jaga kesehatan, biar nggak jatuh sakit kayak aku. Iya aku baru aja sembuh dari sakit flu.
Btw di awal tahun ini aku mau cerita. Jadi aku membuat beberapa perubahan. Atau mungkin tepatnya keputusan untuk membuat perubahan dalam hidupku ini (ceilahhh!)
Jadi keputusanku yang pertama adalah menon-aktifkan akun Facebookku untuk sementara waktu. Hal ini kulakukan demi kebaikanku sendiri, biar nyaman dan tenang. Soalnya aku capek dengan segala hal negatif yang berseliweran di Facebook, macam berita hoaxlah, bait, provokasi, keluh kesahlah, dll.
Aku sendiri nggak ada masalah di Facebook, selain dari dari sikapku sendiri yang kadang agak lebai. Oke itu bukan masalah utamanya. Aku tuh Cuma lelah aja dengan semua sampah dan fake friend di Facebook. Memang nggak semuanya isi Facebook hal-hal negatif, tapi kebanyakan yang aku temui hal-hal ‘itu’ sehingga aku jadi males buka Facebook.
Keputusanku yang kedua lebih besar lagi dari keputusan yang pertama. Besar banget malah! Bisa dibilang ini adalah keputusan besar kedua yang aku ambil dalam hidupku, setelah aku memutuskan untuk ikut pelatihan berasrama di Solo selama setahun. Jauh dari rumah, hidup mandiri dan nggak ketemu orang tua selama setahun. Ini akan merubah total hidupku ke depannya seperti halnya dengan pelatihan yang aku ikuti di tahun 2014 ini.
Sebesar apa keputusannya?
Ibaratnya kalian udah kuliah selama bertahun-tahun, udah semester 7. Tinggal jalani aja satu semester lagi kalian bakal lulus dan diwisuda. Tinggal selangkah lagi dan kalian memutuskan untuk berhenti kuliah.
Mungkin orang akan mengatakan keputusan yang kalian ambil ini sangat besar, beresiko, atau malahan berbahaya! Sehingga orang bakal nge’bego-bego-in’ kalian, kecewa dan menyayangkan keputusan yang kalian ambil. Terutama untuk orang-orang yang mendukung kalian.
Namun kalian tahu persis apa yang kalian butuhkan, kalian tahu resiko akan keputusan kalian, kalian yang memutuskan dan kalian yang menjalani karena hidup adalah hidup milik kalian. Bukan orang yang menjalani. Kalian yang merasakan, kalian yang menikmati, dan kalian yang bertanggung jawab atas kehidupan kalian.
Kurang lebih itulah yang aku rasakan saat ini. Aku punya alasan tersendiri untuk mengambil keputusan itu. Alasan pribadi yang nggak bisa aku ungkapkan di sini. Untungnya orang-orang yang peduli sama aku, yakni orang tuaku my lovely family mendukung keputusan yang aku ambil walaupun ayah agak keberatan. Hehehe.
Aku tahu benar keputusan yang aku ambil ini. Aku tahu konsekuensinya dan dampaknya pada hidupku ke depannya. Aku udah menimbang-nimbang keputusan ini, baik-buruknya buatku. Aku merasa kalau keputusan ini nggak aku ambil, aku merasa nggak bahagia dan hidup dalam kepalsuan. Seperti yang aku lakukan di tahun 2014. Pilih nganggur di rumah? atau ikut pelatihan keterampilan menjahit selama setahun di luar kota? Sesimpel itu.
Mungkin kalau kalian mendengar keputusan yang aku ambil ini, apalagi mengingat aku seorang penyandang disabilitas daksa Muscular Distrophy. Kalian mungkin akan ngebego-begoin keputusanku. Tapi aku punya alasan yang kuat untuk itu.
Jadi ketimbang hidup terbatas dalam zona yang nyaman, aku memilih jalan yang menantang tapi tak terbatas. Aku bisa mengembangkan diriku lebih baik lagi dan aku bisa mengeksplorasi lebih luas. Out of the box! Nggak terkurung dalam kotak zona nyaman semata. Aku sudah dewasa dan bisa bertanggung jawab pada diriku sendiri. Aku berhak menentukan jalanku sendiri.


My life, my adventure

Senin, 04 November 2013

I want to make a job for me

   Beberapa hari yang lalu pas acara pemilihan lurah, aku bertemu dengan teman kursusku yang beda jurusan. Pas ngobrol, dia tanya, 'apa aku sudah bekerja?' aku bilang belum, belum walaupun udah 4 bulan nyelesein kursus jahit. Hal itu membuat aku malu, soalnya sampe sekarang aku masih nganggur dan nggak produktif. Sebetulnya aku pingin banget buka toko online handycraft sendiri, tapi entah kenapa sulit, rasanya niatku perlu ditanyakan kebulatannya. Aku terlalu banyak alasan, takut dan sering menunda-nunda, padahal teman-temanku yang lain sudah memiliki kesibukan masing-masing, hanya aku yang masih diam saja.
   Aku perlu mengubah diriku dan membulatkan tekadku.

Jumat, 21 Juni 2013

triologi hunger games

   setelah aku lulus SMA aku tidak pernah mengakui jikia aku menganggur karena aku menolak meneruskan pendidikanku sekalipun hal itu bisa kulakukan. Namun sejak mesin jahitku rusak dan aku bosan menjahit secara manual, aku akan menghabiskan waktuku dengan membaca novel sewaan, karena hampir semua buku di rumahku sudah kubaca dan tidak semua buku perpustakaan menarik.
   Buku novel ini berjudul 'Hunger Games' karya Suzanne Collins. Awalnya karena sampulnya yang berwarna hitam dan tidak menarik membuatku malas membacanya, tetapi ketika tidak ada buku lagi yang bisa kubaca selain novel tersebut, maka aku baca novel itu, dan rupanya, di luar dugaan, novel itu menarik sekali, namun agak sadis, sehingga tidak cocok untuk pembaca anak-anak.

   Novel tersebut mengisahkan tentang seorang tokoh bernama Katnis Everden yang menggantikan adiknya, Primrose Everden dalam ajang mematikan bernama 'Hunger Games' yang diadakan tiap tahun untuk mengirim sepasang anak usia 12-18 dari 12 distrik berbeda untuk diadu dalam ajang survival games sadis yang hanya menyisakan 1 dari 24 peserta yang ada.
  Pasangan distrik Katnis adalah Peeta Mellark, orang yang pernah menyelamatkan hidup keluarganya dan orang yang tidak ingin ia bunuh. Apa yang harus Katnis perbuat?Bertahan hidup dan membunuh Peeta?atau mengorbankan diri dalam hunger games?
   Akhirnya aku kecanduan dan lanjut baca buku 'Catching Fire,' jadi setelah katnis dan Peeta berhasil memenangkan hungger games, mereka mendapat banyak hadiah, namun mereka masih belum lolos dari bahaya. Presiden negara Capitol, Presiden Snow, mengancam Katnis dan Peeta untuk terus bersandiwara meyakinkan rakyat Panem bahwa ia tulus mencintai Peeta agar rakyat yakin, munculnya dua pemenang dalam hunger games bukan merupakan bentuk perlawanan pada Capitol, tetapi murni karena cinta Katniss pada Peeta, namun sayangnya Katniss tidak bisa membohongi hatinya sehingga ia mati-matian melakukan sandiwara tersebut agar Distrik tempat ia tinggal, distrik 12 tidak dihancurkan dengan meredam pemberontakan yang nyaris tersulut di sejumlah distrik.

   Namun, upaya Katniss, gagal, percikan api perlawanan sedikit demi sedikit muncul dari beberapa distrik, sehingga Presiden Snow menghukum Katniss dan Peeta dengan mengirim mereka dalam Quarter Quell, ajang serupa Hunger Games istimewa yang diadakan 25 tahun sekali, dan para peserta kali ini diambil dari pemenang masing-masing distrik yang masih hidup dan mengirimkan 24 pemenang untuk saling membunuh dan bertahan hidup dalam Survival games lagi. Mimpi buruk Katniss terulang.
   Di buku ketiga alias novel final hunger games, yakni 'Mockingjay,' Katnis selamat dari Quartel Quell, tetapi      distrik 12 di bumi hanguskan, dan sebagian orang yang selamat mengungsi ke distrik 13 yang semula diyakini telah hancur. Di sana Katnis mulai berjuang untuk melawan Capitol yang telah menangkap Peeta.

Praktik Membuat Rok Nih

   Hari ini lanjutan dari pembuatan rok dasar yang sedang kita praktekan, tapi aku susah banget pakai mesin jahit high speed sehingga benangnya putus terus karena aku menginjak pedalnya terlalu keras, padahal kupikir aku sudah mengaturnya dengan pelan, namun ketika di coba asisten pembimbingku, nyatanya mesinnya baik-baik saja, berarti memang akunya yang kurang menguasai penggunaan mesin jahit high speed.
   Lalu aku pindah ke mesin jahit yang lain, siapa tahu saja di mesin ini aku bisa cocok dan benang tidak akan putus-putus. Bisa dibilang saat ini pekerjaanku sangat lamban, sehingga teman-temanku sudah selesai duluan, maksudku jangankan risleting, mereka bahkan sudah memasang ban pinggang dan tinggal menjahit bagian ujung roknya dengan jahit som.
   Dan pekerjaanku makin lambat karena ada temanku yang juga belum selesai meminta bantuanku, tak masalah sih, tapi aku tidak mau pekerjaanku menjadi terbengkalai karena harus mengutamakan keinginanmu.
   Aku jadi sedikit 'capek' ditambah lagi tanganku yang lemas sejak kemarin belum sembuh sepenuhnya.
   Kuharap di praktik berikutnya aku bisa lebih cekatan dan tidak membuat kesalahan.

Kamis, 21 Maret 2013

susahnya hidup tanpa laptop

   Susah banget ga punya laptop, di zaman serba canggih ini mainnya komputer. Ga masalah sih kalau ga punya juga, tapi setiap aku mau ngetik resensi, karena laptop kakak yang punya akhirnya di bawa kakak jadi sulit banget kalau mau menuangkan tulisan ke media blog, padahal blog itu seharusnya di update terus. Selain itu kalau ngenet ke warnet biayanya murah tapi mahal (perjam Rp1500,00) dan ga leluasa. Mau buka facebook juga susah, baru sekarang aja ada kesempatan. Repot banget!! >,<

Senin, 22 Oktober 2012

very long long time

    Dah lama banget aku nggak update, soalnhya untuk konek susah banget, maklum ga punya laptop, kalaupun konek ga tau harus nulis apa, tapikan ini kisah-kisah anirafti, maka aku akan menuliskan kisah anirafti.
    Anirafti merupakan anagram dari nama belakangku Fitriana, seperti halnya Parto di anagram menjadi rapot, Sule menjadi elus atau lesu dan Andre menjadi renda maka nama belakangku ini juga bisa jadi apa saja seperti anirafti, anirafit, tifa nair, tifa niar, dan lain-lain, aku mempelajari hal ini dari buku novel karya Dan Brown berjudul Da Vinci Code dan Digital Fortress, keren banget aku jadi bisa bermain dengan huruf dan kata dan mengubahnya menjadi suatu hal yang lain, seperti nama belakang kakakku Qamarani menjadi Nara Maqi, kedengaran jepang tapi siapa sangka ini dari nama Indonesia.

Kamis, 24 Mei 2012

The Story of Kuroshoes



                Aku kelas 3 SD ketika orangtuaku membelikan sepatu Pro ATT ukuran 38 warna hitam. Sebuah ukuran yang kebesaran untuk anak 9 tahun, harga sepatu itu cukup mahal, namun keluargaku masih mampu membelinya karena saat itu kami masih punya toko. Oleh karena itu orang tuaku membelikan sepatu yang ukurannya lebih besar dari ukuran kakiku yang sebenarnya agar bisa kupakai terus hingga beberapa tahun mendatang, sebuah investasi sederhana yang sangat membantu.
                Meski sepatu baru itu bagus dan bermerk terkenal, aku tidak mengenakan sepatu itu karena kebesaran hingga harus disumpal kertas, maka aku memilih sepatu lamaku yang harganya sangat murah, sepasang sepatu berujung bulat yang modelnya seperti sepatu balet tapi harus diganti setiap beberapa bulan karena pertumbuhanku cepat.
Selain memakai sepatu balet itu, kadang-kadang aku memakai sepatu-sandal. Saat itu merupakan hal yang wajar jika murid SD memakai sepatu-sandal ke sekolah terutama pada hari Sabtu.
                Maka, orang tuaku berinisiatif membelikanku sepasang sepatu baru bertali yang ukurannya pas di kakiku dan sangat nyaman hingga aku leluasa bergerak. Sayangnya sepatu itu memiliki sol yang tipis dan cepat halus sehingga aku sering terpeleset, dengan berat hati sepatu bertali itu aku simpan, hanya kupakai sesekali jika sepatu Pro ATT belum kering.
                Selanjutnya aku selalu memakai sepatu itu ke sekolah. Seringkali aku terlambat ke sekolah karena aku lupa memasang tali sepatu itu setelah aku cuci. Pernah ada peristiwa lucu ketika aku terlambat ke sekolah saat kelas 1 SMP, aku begitu tergesa-gesa hingga terjatuh karena menginjak tali sepatuku sendiri. Aku jatuh tersungkur seperti orang pingsan, kebetulan saat itu sedang agak ramai dan ibu kantin yang lewat di depanku benar-benar mengira aku pingsan karena aku diam saja setelah terjatuh, padahal aku sedang merutuki nasib sialku. Aku di gotong ke UKS. Aku diam saja karena kebingungan. Aku berharap mereka tidak memberitahu orang tuaku karena aku takut mereka marah jika tahu aku terlambat, tapi nyatanya mereka memanggil ibuku. Rumahku memang sangat dekat dengan sekolah, bahkan yang terdekat diantara murid-murid lainnya aku tinggal tepat dibelakang sekolah. Aku malu sekali, rumah dekat tapi sering terlambat.
                Dari kejadian itulah aku mengubah cara mengikat tali sepatuku, cara ini diajarkan oleh bibiku, sangat praktis karena  cara ini menjadikan sepatu mudah dipasang atau dilepas dan anti terserimpet karena tak ada tali yang menjuntai keluar sebab ujung tali berada di dalam, kelemahannya karena talinya kupasang longgar, saat berjalan sepatu bagian tumitnya sering turun, jadi jika ada orang  yang menginjak bagian tumit aku akan mudah terjatuh oleh karena itu aku harus memasangnya dengan kekencangan tali yang pas agar aku tidak terjatuh. Tetapi cara ini betul-betul memudahkanku dalam beraktivitas disekolah.
                Sepatu itu terus menemaniku selama tahun-tahunku disekolah, sepatu itu juga berkali-kali di lem, pernah di jahit solnya sekali, tapi jarang kucuci, hehehe, sepatu iitu juga pernah kemasukan kecoa, saat itu aku kelas 2 SMP tahun 2007, aku berusia 14 tahun dan merasakan ada yang mengganjal kakiku, saat kulepas ketika pulang sekolah ternyata kecoa!tapi sudah mati, rupanya karena sepatunya lembab dan tidak aku tutup dengan kaos kaki kecoa mudah masuk ke dalamnya, untungnya tak ada temanku yang tahu. Lain ceritanya kalau mereka tahu pasti aku di cap jorok. Aku tidak takut kecoa jadi setelah bangkai kecoa itu aku buang, sepatunya aku pakai lagi.
                Aku senang memakai sepatu itu dan sering kupakai ke sekolah, tentu saja karena hanya itu sepatu yang kupunya, sepatu ini awet sekali aku takjub juga dengan keawetan sepatu ini, tak pernah rusak atau pudar, jadi aku tidak pernah membeli sepatu baru bahkan hingga SMA.
                Sepertinya itu adalah hikmah dibalik masa sulit ini, seolah-olah sepatu ini berterimakasih padaku karena aku sering memakainya,  merawatnya dengan baik (meski pernah kemasukan kecoa) dan menganggapnya seperti teman baik, kuberi nama dia KUROSHOES (sepatu hitam), buktinya sepatu ini seperti menyesuaikan ukurannya dengan kakiku,  hingga kini sepatu ini selalu longgar saat kupakai, itu juga karena kakiku jadi kecil.
                Hingga aku kelas 3 SMA semester 2 aku masih bersama teman terbaikku, Kuroshoes. Kuro sudah berusaha melakukan yang terbaik, tetapi pada bulan Februari 2012, solnya menganga di bagian belakang sepatu sebelah kanan. Saat itu merupakan hari terakhir kegiatan belajar mengajar sebelum Try Out dan Ujian Nasional, aku tahu saat itu kuro sedang sakit (rusak) tapi karena saat itu ada pelajaran olahraga, aku terpaksa memakainya. Saat itu aku sudah punya sepatu lain bernama BLACK STRAWBERY yang dihadiahkan bibiku sebagai hadiah tahun baru. Sepatuku yang baru ini seperti sepatu baletku saat SD, tapi lebih awet dan tampak cocok sekali dipakai anak perempuan, terlihat manis sekali karena itu kunamakan strawbery. Tapi jika bukan karena Kuroshoes yang rusak aku takkan memakainya karena ukurannya terlalu pas di kakiku sehingga jika di pakai langsung, bagian tumitnya tidak masuk, harus dibantu dengan tangan. Tidak praktis.
                Sebetulnya Kuro bisa diobati (dibetulkan) dengan lem yang kuat, tetapi lemnya habis setelah dipinjam tetangga, jadi posisi Kuro digantikan dengan Bery. Meskipun dia merupakan sepatu yang amat pasaran (di kelasku ada 2 anak lain yang memakai merek serupa), Bery tak kalah nyaman dengan Kuro, kalau cara memakainya benar, maka tumit bisa langsung masuk tanpa dibantu tangan. Tetapi kini karena aku sudah lulus mereka tidak aku pakai lagi, bahkan hingga kini Kuro masih belum dilem bukan karena tidak ada uang, tetapi karena aku sudah lulus, kupikir tak ada gunanya dibetulkan karena aku sudah lulus, kecuali jika aku kuliah, sungguh kuharap aku bisa kuliah. Sakarang aku sedang menunggu pengumuman kelulusan yang jatuh pada tanggal 26 Mei. Do’akan aku ya semoga aku lulus!
                Terimakasih Kuroshoes, Blackbery. Kalian telah menemaniku melewati masa sulit, senantiasa melindungi kakiku, kalian teman terbaikku. Sekali lagi terimakasih ^^